Rabu, 21 Maret 2012

Alhamdulillah...

Baru sempet buka blog lageee.... Alhamdulillah kemarin tanggal 19 Maret dah pengumuman UKDI, saya lulus.... Senang sekali.... kekhawatiran saya hilang sudah... tinggal magang dan rencana-rencana lainnya... sekarang ngurus syarat2 pelantikan, sama syarat magang,, huff,, banyak banget, waktu terbatas... untung sebagian dah dicicil.... Udah cuma pingin nulis itu aja sih. gak penting ya... Gak papa deh... Ini luapan kebahagiaan saya... Hehehe... :D

Senin, 12 Maret 2012

KUE LUMPUR KENTANG MINI

Kue lumpur adalah jajanan favorit saya di kantin RSUP dr.Sardjito dulu waktu masih koass. Awalnya saya ga pernah tertarik jajan itu. Haha, saya sok kota ga mau jajan yang bentuknya kayak jajanan pasar gitu. Tapi waktu jaga bulan ramadhan kok salah satu teman saya yang dari Malaysia selalu beli kue itu untuk berbuka. Saya jadi penasaran. Saya pun coba sekali. Ternyata enak. Hehe.. Jadi saya ketularan sering beli kue itu...
 
Setelah lama ga menjamah RS itu saya jadi kangen rasa kue lumpurnya. Tapi ya masak mau datang ke RS uthuk uthuk cuma buat ke kantin beli kue lumpur. Jadilah naluri koki amatiran saya muncul. Saya browsing resep kue lumpur, dapat di blognya om Budi Sutomo (sok kenal banget manggil-manggil om. hehe... maaf ya om, anggap saja saya penggemar anda. saya suka mampir blog anda buat cari resep). Tapi dasar pemalas, dah lama saya simpen resep itu ga dicoba-coba juga.
Sampai pada tadi pagi, ibu saya dapat jatah memasak buat posyandu balita (hadeh, urusan ibu-ibu geto deh...). Buat dedek-dedek itu mau dibuatin sop. Tapi ternyata ada miskomunikasi antar para ibu itu, jadinya sopnya ga pake kentang, padahal ibu dah ngerebus kentang (untung belum dibumbuin). Jadinya kentang itu dihibahkan ke saya buat mainan, eh, maksudnya dibuat makanan apa gitu... Barulah saya keinget resep kue lumpur itu yang berjuta tahun dah ngendon di laptop saya belum pernah dipraktekin... Lihat-lihat bahan-bahan di dapur... Hhmm, ternyata ada beberapa kendala, telur tinggal 2 biji (dan pagi-pagi saya males keluar beli telur, hehe..) selain itu saya ga punya cetakan kue lumpur, adanya cetakan poffertjes yang bulet-bulet kecil itu. Jadilah saya modifikasi resep itu jadi kue lumpur kentang mini. Hehe, maksa... ini resep yang kemudian saya modifikasi...
 
Kue Lumpur Kentang [jadi Kue Lumpur Kentang Mini]

Bahan:
250 gr kentang, kukus, haluskan [
saya cuma pake 200 g, dan direbus lalu dihaluskan. soalnya kentang hasil hibah. Hehe...]
200 gr tepung terigu [
jumlahnya saya perbanyak jadi 400 g karena telurnya cuma dikit, jadi saya kasih tepung lebih banyak supaya adonan ga terlalu encer]
200 gr gula pasir
[saya kurangi jadi 180 g biar ga terlalu manis, lagi-lagi karena telurnya cuma dikit]
6 butir kuning telur, 2 butir putih telur [
saya cuma pake 2 butir telur, dipake putih dan kuningnya semua, karena saya males pagi-pagi ke warung. Hehe...]
500 ml santan kental dari 1 butir kelapa [
saya kurangi jadi 250 ml aja biar ga keenceran]
60 gr margarin, lelehkan
½ sdt garam halus
¼ sdt garam halus
60 gr kismis untuk taburan
60 g serutan kelapa muda
[ga pake ini, cuma kismis ajah]
sedang dimasak

Cara Membuat:
1.Kocok telur, gula pasir dan garam selama 20 menit atau hingga mengembang. Masukkan tepung terigu dan kentang sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan spatula plastik hingga tercampur rata.
2.Tambahkan santan, vanili dan mentega cair, aduk rata. Saring. Sisihkan.
3.Panaskan cetakan kue lumpur [saya pake cetakan poffertjes], olesi dengan sedikit minyak. Tuang adonan ke dalam cetakan hingga ¾ dari tinggi cetakan, tutup [saya ga pake tutup-tutup segala] dan masak dengan api sedang [saya pake api kecil aja, coz cetakannya kecil dan unyu] hingga kue setengah matang.
4.Tambahkan beberapa potong kismis dan serutan kelapa muda [saya cuma pake kismis aja] di atasnya. Masak kembali hingga kue benar-benar matang. Angkat, atur di dalam piring saji. Hidangkan hangat.

Jadi deh... Wah bentuknya imut banget... Sekali suap habis sebiji nih... Hehe... Rasanya... wah, menurut saya enak, kayak kalo beli di kantin RS dr.Sardjito, bahkan ini lebih enak. Hehe.. Saya sungguh tau diri sekali, ibu-ibu pada gotong royong masak buat posyandu balita, saya bukannya bantuin malah asyik buat kue sendiri. Hehe, ga papa deh, saya kan belum ibu-ibu (ngeles), lagian tadi ibu saya yang nyuruh saya manfaatin kentang malang yang hampir terbuang itu (proyeksi klasik). Tapi saya minta ibu-ibu itu coba hasil praktek saya, kata mereka juga enak (semoga bukan karena di dapur banyak pisau dan alat-alat berat macam ulekan dari batu ;p). Malah ada yang bilang mau pesen segala. Maaf ya bu, saya belum nerima pesanan, wong masih mood-moodan juga kalo buat kayak ginian. Hehehe...

Kamis, 08 Maret 2012

JANGAN SEPELEKAN DIARE


Siapa sih yang gak pernah diare? Saya rasa mayoritas orang Indonesia pernah kena diare... Berarti dah biasa donk... Trus kenapa ada judul kayak gitu? Yah, silahkan dibaca aja deh...

APA ITU DIARE?
Emang apa sih diare itu? Diare adalah perubahan frekuensi buang air besar menjadi lebih sering disertai perubahan konsistensi menjadi lebih cair daripada biasanya. Jadi, BAB sering dengan konsistensi normal bukanlah diare. Begitu juga pada adek-adek baby yang masih minum ASI, BAB nya lembek, karena memang begitulah biasanya. Di berbagai center pendidikan kedokteran, diare didefinisikan sebagai buang air besar cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari.  Diare paling sering terjadi pada anak-anak, usia 6 bulan sampai 2 tahun. Tapi bukan berarti kalo dah gede gak mungkin kena diare...

DIARE AKUT ATAU PERSISTEN?

Berdasarkan waktunya, diare dibagi menjadi diare akut dan persisten. Diare akut adalah diare yang terjadi secara tiba-tiba dan lamanya <14 hari. Sedangkan diare persisten adalah diare akut yang berlanjut ≥14 hari.

KENAPA GAK BOLEH DISEPELEKAN?

Meski hampir semua orang pernah kena diare, namun ternyata diare juga bisa berbahaya. Diare berbahaya karena bisa mengakibatkan dehidrasi, yang bisa berujung pada kematian. Apa itu dehidrasi? Dehidrasi adalah hilangnya cairan dan mineral tubuh. Pada diare akut yang berat, hilangnya cairan tubuh yang berlebihan sangat mungkin menyebabkan syok hipovolemik, apalagi asupan cairan kurang karena biasanya disertai gejala mual dan muntah. Aduh, apaan sih syok hipovolemik? Intinya organ-organ tubuh kita jadi gagal berfungsi karena jumlah cairan tubuh kurang. Oya, dehidrasi juga lebih cepat terjadi pada anak-anak, iklim yang panas, juga bila terdapat demam. Jadi keadaan-keadaan tersebut perlu diwaspadai. Selain dehidrasi, penyebab kematian lainnya adalah bila diare disertai lendir dan darah (disentri). Selain itu, keadaan malnutrisi atau kurang gizi juga bisa menjadi penyebab kematian pada diare.

GIMANA MENANGANI DIARE?

Meski berbahaya dan perlu waspada, jangan panik. Pertama, identifikasikan dulu jenis diarenya. Diare akut yang khas (spesifik) adalah diare disertai lendir dan darah (disentri) serta diare cair banyak dengan BAB berwarna seperti air cucian beras (kolera). Diluar itu disebut diare akut nonspesifik. 

Disentri bisa disebabkan oleh bakteri (umumnya Shigella) maupun parasit (Entamoeba histolitica). Pokoknya kalo dah ada darah dan lendir segera ke dokter deh, karena penyembuhannya perlu antibiotik. Dan komplikasinya juga berat jika sembuhnya tidak tuntas, bisa terjadi abses hepar (hati bernanah).

Sedangkan kolera disebabkan oleh Vibrio cholera, ditandai dengan BAB yang banyak, cair, berwarna keruh seperti cucian beras, biasanya disertai dengan nyeri perut hebat dan didahului dengan muntah-muntah hebat. Tanda khas lainnya adalah baunya yang ‘manis’, berbeda dengan bau tinja biasa. Kolera menyebabkan dehidrasi berat dengan cepat, dan umumnya menyebabkan kematian pada jaman susah dulu kala sebelum ada antibiotik. Karena itulah perlu segera dibawa ke dokter. Selain untuk diberi antibiotik, juga untuk diinfus bila frekuensi muntah yang sering jadi mengganggu asupan cairan.

Sedangkan untuk diare akut nonspesifik, perawatan di rumah biasanya cukup. Diare akut non spesifik tidak memerlukan antibiotik karena umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri yang tidak merusak usus (non invasif). Kunci utama adalah pemberian cairan (rehidrasi). Jangan sampai penderita diare kurang minum. Lebih baik minum dengan sedikit-sedikit tapi sering daripada banyak dan sekaligus, yang bisa memacu muntah. Bisa dengan makanan yang berkuah banyak seperti sup, buah-buahan, susu atau air putih. Pada bayi, tetap berikan ASI, kalo bisa lebih sering dari biasa. Tiap habis BAB, beri oralit. Setelah rehidrasi, teruskan pemberian makan. Jangan tunda pemberian makan hingga diare membaik. Makan dengan makanan seperti biasanya supaya tidak terjadi malnutrisi (tapi ya dihindari makanan yang mengiritasi saluran cerna seberti lombok, cabe, merica, kopi). Bila demam, bisa diberikan penurun panas. Jangan memberikan obat antidiare secara sembarangan, terutama pada anak-anak.  Karena sebenarnya diare merupakan mekanisme normal tubuh kita untuk mengeluarkan racun. Jadi, bila frekuensi diare sangat mengganggu aktivitas, lebih baik segera ke dokter. Oya, tambahan lagi, bisa diberikan suplemen zink selama 10-14 hari untuk mengurangi keparahan diare saat ini dan mengurangi risiko terjadinya diare selanjutnya.

Jika dengan pemberian cairan dan perawatan di rumah belum membaik hingga lebih dari 14 hari, maka itu sudah diare persisten dan disarankan untuk segera dibawa ke dokter.

GIMANA MENILAI DEHIDRASI?

Dehidrasi dinilai dari kembalinya cubitan kulit perut, mata cowong, kesadaran dan keinginan minum. Semakin lambat kembalinya kulit perut kalo dicubit, semakin berat dehidrasinya. Semakin cowong/cekung matanya, semakin berat dehidrasinya. Pada pasien tanpa dehidrasi kesadarannya masih baik (masih nyambung kalo diajak komunikasi) dan keinginan minumnya biasa. Pada pasien dehidrasi ringan-sedang, kesadarannya menurun (mulai ngelantur kalo diajak ngomong atau pada anak kecil rewel) dan pasien merasa kehausan. Pada pasien dengan dehidrasi berat, kesadarannya bisa sangat turun (bisa sampai pingsan, koma) dan pasien dah gak nafsu buat minum.


POIN PENTING!!

Segera bawa ke dokter bila...
1.       Diare dengan lendir dan darah
2.       Diare cair yang sangat banyak dan keruh seperti warna cucian beras
3.       Muntah-muntah yang banyak sehingga susah untuk minum
4.       Nyeri perut yang hebat
5.       Diare yang sangat sering sehingga mengganggu aktivitas
6.       Terdapat tanda dehidrasi berat
7.       Diare berlanjut hingga lebih dari 14 hari

Saat anda ke dokter, dokter perlu informasi dari Anda mengenai diare Anda maupun anak Anda seperti sejak kapan terjadi, seperti apa bentuk, bau tinjanya, berapa kali sehari, riwayat makanan sebelumnya, sedang banyak pikiran tidak dan sebagainya. Untuk mendapat terapi yang sesuai, pemberian informasi juga harus sebenarnya. Jadi jelaskan saja sejujurnya, tak usah malu-malu. Bila dibutuhkan, dokter akan melakukan pemeriksaan tinja untuk menegakkan diagnosis. Namun bila gejalanya sudah sangat khas, apalagi jika di daerah yang fasilitasnya minimum, biasanya dilakukan pemeriksaan fisik saja kemudian langsung diberikan terapi yang sesuai.

Jadi jangan pernah sepelekan diare. Semoga informasi ini berguna bagi Anda. Sekian ^^

Referensi

  • USAID-WHO-UNICEF-iZinCG. 2005. Diarrhoea Treatment Guidelines Including new recommendations for the use of ORS and zinc supplementation for Clinic-Based Healthcare Workers
  • PAPDI. 2006. Buku Ajar Penyakit Dalam
  • UKK gastro-hepatologi IDAI. 2009. Modul Diare Cair Akut Dan Disentri

               

Selasa, 06 Maret 2012

Dokter Karbitan? Salah Siapa, Ya???

Tulisan jadul dari notes FB saya... Diupload tanggal 24 Desember 2009, saat akhir masa kuliah saya dan hampir memasuki koass... Kalo sekarang saya baca lagi lucu juga...

Setelah berpuyeng-puyeng ujian dan OSCE di hari yang sama… Jadi ingin membagi pikiran saya ini ke temen2 sejawat. Gak terasa dah 3,5 th qt kuliah,, dah mau kompre,, cepet amat ya???

Okay, tulisan ini saya beri judul “Dokter Karbitan? Salah Siapa, Ya??”. Temen2 tau kan,,cara mematangkan buah dengan dikarbit? Jadi misalnya ada perkebunan mangga, mangga2nya belum mateng, tapi karena pemiliknya pingin cepet2 panen karena dah keburu pingin balik modal,, jadi deh tu mangga dipanen prematur… Trus supaya layak jual, mangga2 muda itu “dikarbit” semaleman, jadi besoknya pagi2 bisa dibawa ke tengkulak buat dijual… Yah, kira2 kuliah kedokteran jaman sekarang bisa dianalogikan dengan mangga karbitan itu… Atau kayak ayam pedaging yang disuntik hormon supaya cepet besar dan layak konsumsi…

Itu bukan semata2 pikiran saya lho… Banyak masyarakat sipil yang pikirannya kayak gitu… Bahwa kuliah kedokteran jaman sekarang cepet, banyak anak2 muda yang dah jadi dokter atau bahkan ngambil spesialis, dengan cepet maka bisa segera balik modal, ujung2nya dihubung2kan dengan banyaknya malpraktik medis jaman sekarang… Mungkin pikiran mereka : Gimana gak ngawur ngobatin pasien? Orang cuma dikarbit semalem,,gak jaminan bisa manis2 semua… Nyawa orang kok buat mainan…

Seperti yg saya alami kemarin, saya sedang menunggu di poliklinik RS Hardjolukito buat kontrol gigi saya. Saya diajak ngobrol ibu2 di samping saya, seorang pensiunan di Polri. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, ibu itu tanya saya kuliah dimana, semester berapa. Ya saya jawab di kedokteran semester tujuh. Lalu ibu itu tanya, koass itu sama dengan dokter muda g? Saya jawab, sama bu, tapi saya belum koass. Lalu ibu itu bercerita beberapa waktu lalu ke Sardjito di poli Mata dan lihat 2 dokter muda yg menurut ibunya cuma duduk2 gak jelas dan males2an gitu (koass pato tuh…). Parahnya residen yg meriksa ibu itu ngasih tau, “Itu Bu, mereka berdua dokter muda, calon dokter, kok bisa2nya nyantai2 dan males2an gitu..”. Weks3… Ibu itu bilang ke saya, “Kok sekarang calon dokter pada bisa santai2 gitu, ya Mbak? Yang dihadapi nanti kan nyawa orang… Belum jadi dokter aja dah males gitu…”

Yah,,, saya speechless sejenak. Lalu, “Ya, kan gak semua kayak gitu Bu… Itu tergantung orangnya juga. Lagian Sardjito kan RS pendidikan, didalamnya ada dokter, calon dokter, spesialis, calon spesialis, perawat, calon perawat dan staf2 RS lain. Karena terlalu banyak profesi itu, mungkin koass2 itu lagi gak kebagian tugas…” Hua… Ngelesnya gak banget kan… Paling gak, pingin sdkt melindungi kawan2 sejawat itu… ;p

Jadi ingat juga kata2 tutor kami blok lalu, “Jaman sekarang mahasiswa pada suka makan yang instan2 sih,, pantes mikirnya juga instan2… Kalian tu basicnya lemah banget… Ya saya gak menyalahkan kalian, emang sistemnya sekarang kayak gitu… Kalian semester satu dah diajari ngganti perban. Jaman saya dulu sebelum tahun keempat belum diajari klinik… Jadi basicnya kuat”. Oke,oke, pak… Emang sistemnya sekarang kayak begonong… Saya juga kagak bisa milih dilahirkan dan dibesarkan di zaman ini… Kalo boleh milih saya pingin dilahirkan di zaman nabi Muhammad aja. Kalo ada masalah bisa langsung konsul ke sumbernya… Hehe, malah ngelantur…

Saya inget filmnya Robbin Williams, film jadul sih, judulnya apa ya,,lupa… Jadi ceritanya si Adam (Robbin) itu kuliah kedokteran di usianya yg gak muda lagi karena ia ingin menolong orang dg berempati, mensejajarkan hubungan pasien-dokter. Ceritanya waktu itu pendidikan kedokterannya masih konvensional banget, dimana mahasiswa gak boleh berinteraksi sama pasien sebelum tahun keempat. Dosennya gak setuju dg Adam karena menurutnya dokter tu “kaum priyayi” lah. Buat apa empati? Membuat pasien gak menghormati dokter… Padahal Adam bermotivasi gitu karena sebelumnya dia pernah masuk RSJ karena depresi berat, tapi bahkan psikiaternya sama sekali gak bisa berkomunikasi baik dg pasien… Singkat cerita Adam dan temen2 sevisinya mbuat semacam klinik rahasia dimana “dokter2”nya mengajak pasien untuk menjalani terapi sambil tertawa (karena tertawa bisa memacu sekresi beta endorphin yg menekan rasa sakit…) dan gratis…

Itu jaman dulu ya,, jaman PBL sekarang, mahasiswa dah diajari klinis lebih awal, dipertemukan dg pasien seawal mungkin (paling gak pasien simulasi), selalu ditekankan dengan kata2 mantera EMPATI, EMPATI dan EMPATI. Tapi karena hal2 itu diberikan lebih awal, seperti kata pak ****, konsekuensinya basic medical science kita lebih lemah… Waktu kuliah juga dipadetkan,, kuliah nyambi skripsi,, jadi bisa lulus lebih cepat. Temen2 di fakultas lain dan sepupu2 saya pada heran saya masih berangkat kuliah padahal dah pendadaran. Mereka bilang, di kampus mereka, blm boleh ambil skripsi kalo teori belum habis…

Sistem telah membuat kita begini. Lalu apa kita akan menyalahkan sistem? Ya nggak bisa juga… Pak **** juga menambahkan, “Sistem sekarang memang memberikan basic science sangat sedikit, jadi ya kalian yang harus menguatkannya sendiri… Banyak2 baca…”

Oke,,oke teman… Intinya, meski kita dididik dengan sistem macam ini, kita harus bisa menyesuaikan diri… Meski jaman sekarang sistem membuat orang jadi korupsi, namun jangan ikut2 korupsi. Say no to KKN!!! Halah ngelantur maneh to…

Kalau selama 3 koma sekian tahun ini teman2 merasa masih jadi mahasiswa pato (hya,,saya juga pato, telatan…), masih ada beberapa bulan untuk memperbaiki diri sebelum masuk ke rotasi klinik. Saya ingat perkataan salah satu dosen waktu kuliah blok 20 Psikosomatis, “Waktu kalian koass, guru kalian ya pasien2 itu,, gak ada gunanya kalian bawa buku2 tebal dan malah baca2 di bangsal. Saat kalian belajar dari buku ya waktu kalian kuliah… Di RS kalian belajar dari pasien”. Hiks, jadi pingin nangis saya…

Ayo, semangat kawan2!!! Kita buktikan bahwa kita, calon2 dokter karbitan korban sistem ini bisa jadi dokter yg berkualitas, berEMPATI dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita, gak hanya di depan pasien, pengacara atau hakim, tapi juga di hadapan Allah di Hari Peradilan kelak…

Seperti kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, bagitu pula diri ini yang jauh dari sempurna, jadi kita saling mengingatkan yak!!!! Terakhir…

Burung Irian, burung cendrawasih
Cukup sekian dan terimakasih
Yuukkk…
^_^

Semua memang berlalu begitu cepat. Sekarang setelah koass selesai, merasa jadi dokter karbitan gak? Aduh, memang rasanya jadi pingin mengulang koass, sepertinya masih kurang banyak belajar. Tapi belajar memang harus dilakukan sepanjang hayat sih, gak hanya saat kuliah atau masa pendidikan saja...

Senin, 05 Maret 2012

Tentang Lagu Dan Pikiran

Katanya lagu yang kita dengar akan mempengaruhi pikiran bawah sadar kita. Jujur saat galau dan orceth saya lebih suka lagu-lagu galau dan orceth karena rasanya kok bisa pas banget dengan keadaan saya... Tapi hasilnya, ternyata malah jadi semakin galau dan orceth. Setelah saya lihat, ternyata di folder lagu saya isinya jauh lebih banyak lagu galau dan orceth dibanding lagu yang memotivasi. Hehe... Ini daftar lagu-lagu positif dari koleksi lagu-lagu kesukaan saya yang saya rasa bisa memotivasi saya... (siapa seh, yang nanyaa?? hehe XD)
  1. Hanya Hamba Allah -- Opick
  2. Jangan Menyerah -- D' Masive
  3. Welcome To Wherever You Are -- Bon Jovi
  4. You Are Loved -- Josh Groban  
  5. You Raised Me Up -- Josh Groban
  6. Sampai Nanti, Sampai Mati -- Letto
  7. Meraih Mimpi -- J-Rock
  8. Everyday -- Bon Jovi
  9. Ceria -- J-Rock
  10. Better Man -- Robbie Williams
Apa lagi ya... yah... dah gak ada ternyata...
Aduh... ternyata dari banyak koleksi lagu yang saya sukai, lagu-lagu yang memotivasi hanya 10 itu??? Lalu sisanya??? Ckckck... pantas saja kenapa pikiran saya banyak galau dan orceth. Waw, saatnya menambah koleksi lagu yang memotivasi... Semangat... \^o^/


Sabtu, 03 Maret 2012

Try Out OSCE UKDI


       OSCE – Objective Structured Clinical Examinaton. Tentu teman-teman sejawat mahasiswa kedokteran, koass maupun yang udah jadi dokter akrab dengan istilah ini. Ujian skills saat jadi mahasiswa kedokteran, dilakukan tiap 3 blok / 1 semester sekali. Ujian yang bikin dheg-dheg sirr... Berharap mendapat dosen penguji yang baik hati dan tidak sombong. Gak tidur semaleman, autis ngomong sendiri ngapalin checklist.. Bersorak senang waktu tau dosen killer yang menguji gak bisa hadir dan digantikan oleh residen kesayangannya (senang lah, biasanya residennya lebih baik). Waktu ujian ngomong gak jelas sama manekin.. Kadang bingung juga, soalnya ada dosen saya yang gak suka kalo kita ngomong sama manekin kayak orang stress. Sementara ada dosen lain yang mengharuskan kita memanusiakan manekin sebelum memanusiakan manusia – pasien sebenarnya. Lalu menghadapi pasien simulasi yang jago acting dan hobi ngetes kita. Kayaknya mas-mas & mbak-mbak itu mukanya puas... banget kalo menanyakan tentang penyakit atau treatmentnya dan kebetulan kita pas gak menguasainya (belum selesai belajar kasus itu) dan kebingungan menjawab. Kalo dulu waktu sering OSCE sih, pokoknya asal pede saja. Nggombal sekenanya lah. Ini nih yang disebutkan para konsulen waktu saya koass di bagian jiwa. Simptom psikiatrik bisa juga muncul pada orang sehat pada situasi tertentu. Misalnya mahasiswa waktu ujian lisan maupun OSCE. Jadi logorea, flight of idea, asosiasi longgar, lebih parah lagi inkoherensi... Menurut saya mending ngomong banyak gak nyambung gitu sih dibanding blocking ato remming... Hehe... Kalo bisa sekalian pasien simulasinya dibuat bingung aja. Pokoknya jangan sampai senyum puas bisa ngerjain kita itu muncul di muka si pasien simulasi. Hehe... Trus sampai rumah belajar lagi deh tentang kasus yang membuat kita merasa gebleg bin dudul itu. Jangan sampai besok-besok lagi kalo dapat pasien dengan kasus yang sama di OSCE berikutnya atau pas remediasi (ada kemungkinan gak lulus to, wong jawabnya ngawur...) kita bingung lagi. Waktu koass ternyata ada juga OSCE, tapi pasiennya pasien beneran bukan simulasi lagi. Ini sih udah biasa dan tinggal ngalir aja kalo kita dah biasa rajin follow up pasien. Lagian pengujinya biasanya gak seidealis penguji waktu S1. 

UKDI – Uji Kompetensi Dokter Indonesia. Ujian ini mulai diberlakukan pada angkatan baru-baru, mulai angkatan 2000-an apa ya... Soalnya dokter yang angkatan 1990-an pada gak mengalami UKDI ini. Ujian ini adalah ujian final banget setelah kita selesai semua stase koass dan yudisium. Sebenarnya sudah dokter ni, tapi belum disumpah. Ujian yang mendebarkan. Mengerjakan 200 soal dalam 200 menit. Butuh daya tahan fisik dan mental (lebay sih...). Dulu sampai angkatan 2005 masih paper based. Mulai angkatan saya, 2006, sudah computer based. Satu tambahan stressor lagi buat manusia-manusia gaptek macam saya. Takut lah kalo tiba-tiba ada kendala teknis ato salah klik ato gimana. Tapi kemarin 18 Februari ujiannya dah terlaksana. Alhamdulillah gak ada kendala teknis yang saya takutkan. Tinggal nunggu pengumumannya tanggal 19 Maret. Aduh... dheg-dhegan nih... Tapi gimana lagi, yang penting dah berusaha sebaiknya, tinggal tawakkal dan berdoa. Mohon ikut didoakan ya... Takut nih... Hehe, malah curhat. 

Gimana kalo dua hal mengerikan itu digabung?? Jadi OSCE UKDI?? O tidak... Super duper mengerikan dong... Hehe... Saya bersyukur OSCE UKDI baru mulai diberlakukan tahun 2013. Semoga saya dan teman-teman seangkatan saya bisa lulus UKDI kemarin sehingga gak perlu ikut UKDI yang dah ada OSCE nya. Amin-amin-amin... Buat teman-teman dan adik-adik yang bakalan kena UKDI yang ada OSCE nya gimana? Saya hanya bisa turut prihatin (SBY mode: on). Hehe... Gak ding... Saya mau bagi pengalaman nih... Semoga membantu.

Tanggal 25 Februari kemarin saya ikut try out OSCE UKDI nya. Try out ini yang ketiga kalinya dilakukan untuk persiapan sistemnya, udah baik atau belum. Saya ikut baru sekali itu. Waktu daftar UKDI ada pilihan bersedia ikut try out OSCE tanggal 28 Februari? Saya pilih ya. Saya pikir buat pengalaman dan ngisi waktu aja, wong juga gak ada rencana kemana-mana. Ternyata try out nya dimajukan tanggal 25... Malam sebelum UKDI saya ditelpon dosen skills lab, jadi bisa ikut try out nya gak. Tanggal 24 briefing, tanggal 25 try out nya... Belum ada rencana apa-apa (alias banyak nganggur). Jadinya saya sanggup deh.

Waktu briefingnya saya jadi dheg-dhegan. Dah lama gak OSCE model mahasiswa S1 gini... Dan ternyata dari pesertanya, separuhnya aja yang teman-teman seangkatan saya yang dah UKDI, separuhnya adik angkatan saya yang masih koass. Menurut dosen saya, sebagian besar yang awalnya bersedia ikut try out membatalkan waktu ditelpon karena tanggalnya diajukan. Waduh saya jadi dheg-dhegan banget. Agak nyesel juga, kenapa saya gak pura-pura ada acara lain aja ya?? Hehe,, tapi gak papa lah, itung-itung buat pengalaman. Jadi diinformasikan bahwa ada 14 station... 2 station istirahat, 4 station penyakit dalam, 8 station yang lain-lainnya. Masing-masing station waktunya 14 menit, diselingi untuk baca soal dan moving, waktu efektifnya 12 menit. Karena berlabel nasional, maka beberapa penguji berasal dari center lain, gak hanya dari UGM. Waktu briefing saya berencana untuk sekedar buka-buka lagi checklist jaman S1 dulu. Tapi sampai rumah... niat tinggal lah niat belaka... Toh ini gak mempengaruhi apa-apa... Jadinya saya gak ada persiapan khusus buat try out OSCE ini. Jalani saja mengalir seperti air... Ingat-ingat aja ujian waktu koass, lakukan kayak gitu aja. Hehe...

Hari-H nya... Datang jam 7 kurang... Lalu menunggu para penguji siap. Seperti peraturan UKDI, seluruh barang peserta diamankan. Termasuk jam tangan, handphone dan dompet, dimasukkan ke loker. Jadi benar-benar cuma bawa diri aja. Gak kayak OSCE waktu mahasiswa yang harus bawa alat sendiri dan jam tangan, untuk OSCE UKDI stetoskop, termometer, palu refleks gak perlu bawa lagi, dah disediakan. Jam tangan juga gak perlu bawa lagi karena tiap ruang dah ada jam dinding. Oya, yang boleh bawa sendiri cuma bolpen aja. Itu pun waktu try out kemarin juga dah disediakan. Oya, jangan lupa kostumnya yang sopan, no jeans, no kaos, no sandal. Jangan lupa juga pake jas putih. Dan bawa kartu ujiannya. Oke. Jadi seluruh peserta diminta duduk di depan masing-masing stationnya sampai semua siap. Setelah ada suara “Silahkan baca soal”, kita berdiri dan membaca soal berupa kasus singkat dan instruksi yang ada di depan pintu. Soal ini dalam kondisi tertutup, sehingga untuk membaca soal kita harus menggeser penutupnya ke atas dan mengembalikannya lagi seperti semula setelah selesai (biar gak diintip peserta selanjutnya mungkin). Lalu ada suara “Silahkan masuk”... Kita masuk deh ke dalam. Di dalam ada soal yang sama dengan di pintu kalau-kalau saking gugupnya kita lupa. Penguji atau observer di pojok. Gak akan memberi informasi apapun kecuali hasil pemeriksaan fisik atau laboratorium yang kita butuhkan. Kalo pengujinya nanya ke kita tentang penyakitnya, itu mungkin sekali. Selain itu tergantung stationnya, ada yang isinya manekin, ada yang isinya pasien standard (untuk OSCE UKDI istilahnya pasien standard, bukan pasien simulasi lagi). Lalu? Mulai deh sesuai instruksinya. Jangan buang banyak waktu. Nanti ada bel pengingat, bel ini bukan waktunya habis loh, tapi peringatan kalo waktu tinggal 2 menit lagi. Setelah 2 menit, baru deh ada suara pengusir “Waktu habis, silahkan keluar”. Habis keluar jangan langsung baca soal ato masuk ke station berikutnya, bisa didiskualifikasi ntar. Duduk manis di kursi depan station sampai ada suara “Silahkan baca soal” lagi. Gitu deh sampai semua station terlewati. Tapi asli, menurut saya hukum relativitas waktu benar-benar berlaku disini. Kalo kita pas menyukai stationnya dan menguasai kasusnya, menikmati banget ujiannya, seakan-akan waktunya sangat terbatas, tau-tau abis. Tapi kalau pas station yang bikin kita bingung, mentok gak tau harus bagaimana lagi, nunggu bel peringatan berbunyi kayak bertahun-tahun deh. Hehe... Di station istirahat, perbanyaklah doa... Bisa minum juga kalo haus, sudah disediakan minum. Ini juga kesempatan buat ke kamar kecil. Saya mau cerita per station yang saya masuki ya... Buat gambaran teman-teman yang kelak ikut OSCE UKDI...

Station pertama. Obgin... Waktu itu kasusnya intinya diminta pasang AKDR alias IUD. Ini station dengan manekin. Mungkin OSCE UKDI sebenarnya kasusnya bisa lain loh ya, bisa pasang implant, pemeriksaan ginekologi, partus spontan, presbo, kuret, pap smear, dsb. Ingat-ingat lah waktu OSCE stase Obgin dulu. Tapi ternyata kasus sesimpel ini saya melakukan kecerobohan juga. Padahal dulu waktu koass di Banjarnegara saya dah pernah pasang IUD pada pasien meski baru satu kali. Mungkin dheg-dhegan karena berlabel ujian dan karena ini station pertama. Kecerobohan saya diantaranya merobekkan handscoon. Aduh keliatan banget gugup. Lalu saya dah pake handscoon tapi belum nyiapin IUD nya yang ternyata masih disegel. Lalu saya gak pasang tenakulum. Waduh, kalo ujian beneran bisa gak lulus nih... Malu juga sama pengujinya, saya gak kenal sih. Mungkin ini penguji yang dari center lain. Atau dosen saya sendiri tapi saya gak kenal? Entah lah... Beruntung nama di jas saya sudah pudar karena sering dicuci (dulu waktu koass bercandanya kalo jas kayak gini koass postchief). Jadi semoga nama saya gak diinget lah. Malu... Hehe... Tips buat kalian yang OSCE UKDI station Obgin: kalo handscoon robek jangan panik, stay cool, ganti aja lagi karena di OSCE UKDI ini disediakan banyak bahan habis pakai yang boleh kalian pakai semaunya. Habis-habisin aja. Denger-denger juga dah bayar mahal kan kalo ujian sebenarnya. Lalu siapkan dulu IUD sebelum pakai handscoon. Kalo dah terlanjur, ganti lagi handscoon sebelum memasukkan IUD ke model uterus. Gak papa, gak akan dimarahi ngabis-ngabisin handscoon daripada on dan gak lulus... Trus inget-inget stepnya, jangan ada yang kelewatan. Banyak-banyak latihan sesuai checklist akan membantu.  

Station kedua. Bedah. Kalo ini pengujinya saya tahu. Beruntung bukan dosen senior yang killer itu. Atau dosen lainnya yang lebih muda tapi juga killer dan terkenal nyentrik karena gak suka kalo kita ngomong sama manekin. Hehe.. Ini staf muda yang baik hati dari bedah onkologi. dr.A,SpB. Dan kasusnya saya suka... Bedah minor, simple skin suturing. Mungkin saya emang suka jahit menjahit, maklum waktu SMP saya paling suka pelajaran PKK. Hehe.. Saya mengerjakan station ini dengan sepenuh hati. Waktunya pun pas, gak kurang. Bahkan pengujinya sempat ngasih feedback ke saya. Emang ini cuma try out, dan yang dinilai adalah sistemnya. Tapi dr.A,SpB berbaik hati memberi feedback. Beliau bilang ini gak akan berpengaruh pada hidup mati saya. Hehe. Saya sih senang-senang aja, buat masukan saya juga. Katanya jangan menyentuh luka tanpa proteksi (saya emang gak pake handscoon waktu meriksa luka, hehe). Lalu anestesi dulu sebelum cuci luka dengan H2O2. O iya... itu saya benar-benar lupa kalo protokolnya gitu. Habis kemarin-kemarin biasa hecting di klinik waktu saya gantiin jaga kakak kelas gak pernah pake H2O2, lha wong gak ada... Jadi saya malah lupa standard yang benar. Tips buat kalian: sama seperti sebelumnya, pakai bahan habis pakai sesuka kalian. Kalo gak ada handscoon on buat meriksa luka, pake aja handscoon steril (jadi inget di UGD Klaten dulu sebelum disediain handscoon on pada buang-buang handscoon steril). Benang juga, kalo dah kependekan ganti aja yang baru. Ingat step-step yang benar. Seperti kata seorang dosen senior biasakan lakukan yang benar, jangan membenarkan yang biasa kita lakukan. Hehe... Trus apalin juga nama alat-alatnya. Kemarin saya gak ditanya sama penguji sih, wong cuma try out. Kalo OSCE UKDI kelak, siapa tau pengujinya iseng nanya nama alat-alatnya...

Station ketiga, penyakit dalam 1. Ini saya kacau... Kasusnya penurunan berat badan. Pasiennya pasien standard. Waktu anamnesis saya bingung. Habis pasiennya gak ngasih banyak informasi. Di setting nyata waktu yankes ato jaga klinik gak segitunya deh... Jadi DD saya cuma TB dan kakeksia karena malignasi. Pasien itu dah bilang gak batuk... tapi saya tetap maksain mengarah ke TB. “Selain penurunan berat badan, beneran gak batuk, Pak? Kalo keringat malam ato demam ada gak??” Haha, saya berkali-kali bertanya kayak gitu. Maksa... Sampe pengujinya senyam-senyum. Waktu diperiksa gak ada kelainan fisik, lagi... Aduh... Mentok gini... Kalo ujian beneran gak lulus nih... Akhirnya bel yang dinanti berbunyi juga... Beneran, rasanya ingin segera terbang dari ruangan itu. Setelah cross check sama temen lain, ternyata ada juga yang sama bingung dengan saya, tapi ada yang dapat DM! O iya... DM ya... Kenapa gak kepikiran... Aduh dudul... Coba tadi lebih rinci anamnesisnya. Trus cek GDS, pasti ketahuan. Gak papa sih, gak mempengaruhi hidup dan mati, tapi kan malu sama pengujinya, pake acara maksain pasien lagi... Hehe... Tips untuk penyakit dalam, inget berbagai DD penyakit berdasarkan keluhan utama pasien!! Saya merekomendasikan buku Bedside Diagnosis.

Station keempat, THT. Kasusnya penurunan pendengaran. Pasiennya actingnya lumayan juga. Pura-pura gak denger, jadinya saya ngomong sekalian teriak-teriak aja. Hehe... Gak susah sih ini menurut saya... Anamnesis bla-bla-bla... Trus periksa fisik. Awalnya karena keluhannya penurunan pendengaran, saya mau tes rinne-weber-schwabah. Haha, sok-sokan mau diagnosa CHL ato SNHL. Tapi ternyata gak disediakan garpu tala. Jadi saya periksa THT aja. Kedudulan saya, dah lama gak pegang otoskop, saya bingung nyalain otoskopnya. Haha, untung pengujinya baik hati. Dokter ini kayaknya waktu saya koass THT masih R atas deh, sekarang dah staf ya... Beliau ngasih tau saya. “Ditekan trus diputer dik...” Mungkin karena ini cuma try out. Kalo OSCE UKDI beneran jangan harap dapat penguji kayak gitu. Hasil pemeriksaannya dikasih foto liang telinga tertutup serumen. Yup... Cerumen prop... Tindakannya evakuasi serumen lah ya... Tipsnya: kuasai cara pemakaian alat. Sering pinjam alat di skills lab buat latihan. Kalo bingung nyalain otoskop aja bisa ngabis-ngabisin waktu...

Station kelima, penyakit dalam 2. Pasien ini actingnya bener-bener totalitas. Acung jempol deh. Dari make up bisa pucet banget, terus kesakitan sampai jumpalitan. Keluhannya nyeri pinggang kiri, buang air kecil berdarah, demam. Tapi pasien ini khas sih.. Lebih mudah dieksplor juga dibanding DM yang gak jelas. Pemeriksaan fisik ada nyeri ketok ginjal. Pyelonefritis akut mungkin. Tapi saya minta hasil BNO IVP gak ada... Akhirnya kasih analgesik dan antibiotik wae. Pasiennya nanya, “jadi gak mondok ya dok?”. Bodoh sekali saya jawab gak, padahal jelas-jelas pasien kesakitan gitu. Saya bilang ntar kalo obatnya habis kontrol lagi aja. Aduh... dudul banget... Harusnya dirujuk ke rumah sakit buat opname ya, wong KU nya buruk gitu. Ah sudahlah gak papa... Tipsnya: lihat KU pasien, kalo dah nampak sekarat gitu ya opname aja lah...

Station keenam, DV. Ini pasiennya juga niat. Kulitnya ditempel-tempel entah pake apa jadi ada UKK nya. Gatal-gatal, nyeri, demam... Ada foto UKK nya juga, ada vesikel kecil-kecil, ada yang pecah... Jadi disuruh deskripsi UKK nya. Entahlah bagi saya seluruh penyakit DV tuh mirip semua yak... Pokoknya saya gak mau ambil DV lah... Riwayatnya anak pasien juga sakit serupa, dah sembuh. Saya diagnosa varicella DD herpes. Saya minta periksa penunjang, Tzank test nya, ada hasil fotonya, tapi saya bingung juga interpretasinya apaan, biru-biru gak jelas gitu. Hehe.. Akhirnya saya malah jadi labil, diagnosa jadi herpes. Pengujinya trus nanya, jadinya diagnosa herpes apa varicella? Huaa... malu saya... Sebenarnya saya juga bingung diagnosanya apa. Tipsnya: jangan labil.

Station ketujuh, anak. Ibu-ibu bawa boneka. Jadi heteroanamnesis sama ibunya. Kasusnya biasa sih, lemas, rewel, jadi tidak aktif. Gak ada diare, demam. Anamnesis singkat riwayat perkembangan, imunisasi, perinatal, prenatal gitu lah. Semuanya biasa aja. Ternyata waktu diperiksa konjungtiva anemis. Pemeriksaan laboratorium mendukung diagnosa anemia defisiensi besi. Cuman saya bingung sumber perdarahannya dari mana, soalnya waktu anamnesis gak ada riwayat perdarahan. Pemberian makannya juga dah baik. Entahlah. Terapinya saya kasih vitamin dan SF. Dan saya gak tahu berapa dosis SF untuk anak-anak. Aduh... Habis umumnya anak paling ISPA, diare gitu... Tips: hapalkan dosis obat-obat untuk anak-anak, dalam /kg BB. Gak cuma analgesik, antibiotik aja, tapi indonesia raya, sampai suplemen, vitamin, obat-obat gak penting gitu deh. Selamat menghapal.

Station kedelapan, jiwa. Soalnya dah jelas mengarah banget... Pasien merasa was-was, gelisah, gak tau kenapa. Berdebar-debar, gejala otonom gitu deh. Kayak gini sih gak usah dianamnesis juga dah jelas General Anxiety Disorder. Tapi ya protapnya harus diperiksa ya. Jadilah ngobrol sama si pasien ini. Dengerin keluhannya. Periksa status mental. Gak terlalu masalah sih. Cuma saya lupa gimana nulis RM jiwa yang sistematis. Dudul deh... Padahal jiwa stase terakhir dan saya juga ada keinginan ambil jiwa. Gak papa lah. Yang penting diagnosanya tau, gak malu-maluin. Hehe... Terapinya alprazolam atau diazepam. Sama sok-sokan ngasih psikoterapi gitu deh. Tips: inget cara penulisan RM jiwa yang benar. Kayak KU, isi pikir, arus pikir, persepsi, dsb...

Station kesembilan, emergency. Wah paling kacau. Bingung. Alatnya juga gak lengkap sih... Soalnya ada pasien tiba-tiba gak sadar, sebelumnya mengeluh sakit dada. Ini pake manekin juga. Pertama dah ABC, primary survey, menurut soal gak ada nadi dan napas. Trus saya dah CPR. Waktu tanya ke penguji gimana nadi dan napas setelah CPR, penguji cuma menunjuk ke soal lagi. Aduh kan bingung... Maksudnya tetap gak ada nadi dan napas gitu ya... Mungkin harusnya dipasang ET ya, tapi ET nya gak ada. Gimana ya... Yang ada malah adrenalin. Masak langsung suntik adrenalin sih... Kacau, di ruangan ini waktu berjalan begitu lambat. ZzzzzZzzzz... Tips: ternyata menurut teman saya, lebih baik bilang “sekarang saya pasang ET” semacamnya lah meskipun gak ada alat-alat buat intubasi, daripada hanya terdiam. Haha,, sesimpel itu. Dudul.com.

Station kesepuluh, penyakit dalam 3. Saya gak tau, gimana sih cara bikin nafas supaya bisa muncul ada wheezing kalo nyatanya gak ada? Pasien standard ini, bisa kedengaran ada wheezingnya! Ajaib! Mungkin pasiennya emang ada asma kah? Kalo gak, entahlah gimana latihan actingnya. Pasien ini keluhannya sesak. Serangan kedua. Serangan pertama dah dulu banget waktu masih kecil. Bla-bla-bla... Gak ribet sih. Spirometri hasilnya variabilitasnya 35%. Asma intermitten. Terapinya reliever aja gak usah pake controller. Tips: tetap perkaya DD!!

Station kesebelas, saraf. Kasusnya pusing berputar. Anamnesisnya mengarah ke BPPV sih. Harusnya periksa manuver Hallpike ya. Saya inget nama pemeriksaannya aja, tapi lupa gimana cara nglakuinnya. Akhirnya setelah tes saraf umum, tes keseimbangan biasa aja. Tunjuk hidung jari. Test gait. Sama Romberg test. Haha... Gak tau lah. Pokoke diagnosanya BPPV lah. Terapinya? Saya lupa... Setelah ujian berakhir baru inget kalo harusnya dikasih betahistin. Waduh... Tips: Latihan manuver-manuver khusus untuk pemeriksaan neurologis. Jangan cuma apal namanya. Yang sering muncul mungkin untuk meningitis pake meningeal sign (kernig, brudzinsky), HNP, ischialgia gitu pake tes lasegue, patrick, contra patrick, trus CTS pake tes tinnel, phalen, dsb.

Station terakhir, penyakit dalam 4. Kasusnya demam 7 hari. Pasti sudah ketebak. Malam lebih panas. Mual-mual, konstipasi. Diperiksa ada hepatomegali dan lidah tifoid. Laboratoriumnya Widal test titernya naik. Jelas toh... Demam tifoid. Terapinya kasih siprofloksasin sama parasetamol. Ini station terakhir dan kasusnya gak sulit, jadi waktunya tau-tau habis deh... Tips: ada baiknya saat membuat DD, lakukan juga pemeriksaan untuk menyingkirkan DD. Misal DD dengan DHF, lakukan rumple leed gitu.

Huah... akhirnya semua selesai. Saya baru sadar kalo tangan saya sangat dingin. Kayak ujian beneran aja.. Saya benar-benar berharap semoga UKDI kemarin lulus semua deh. Soalnya ternyata menyeramkan kalo harus ikut OSCE UKDI juga. Di akhir sesi, kami diminta ngisi kuisioner. Untuk sistem ujiannya, menurut saya dah baik, pasien standardnya juga sangat oke, lulusan ISI kali yaa? Tapi beberapa station alatnya kurang lengkap, kayak emergency gak ada ET, ambubag, trus THT gak ada garpu tala. Trus waktu try out saya rasa ada station yang kurang. Ternyata station mata emang gak ada...

Try outnya 3 jam lebih, capek juga. Tapi Alhamdulillah dapat pengalaman dan masukan buat diri sendiri, ternyata masih tetep harus banyak belajar. Dan Alhamdulillah, dapat makan siang gratis dan fee yang lumayan daripada cuma menggalau gak jelas di rumah. Hehe...

Oiya... Meski cuma try out katanya hasilnya tetap dinilai dan diemailkan ke masing-masing peserta, tapi gak akan mempengaruhi apa-apa sih. Cuma buat refleksi kita aja. Jadi penasaran, apa saya bisa lulus semua station padahal gak belajar dulu. Tebakan saya sih, mungkin yang hasilnya mengenaskan yang obgin, emergency sama penyakit dalam yang kasus DM. Lainnya meski gak perfect tapi tolerable lah (kalo saya yang jadi pengujinya loh, hehe...).

Semoga teman-teman batch selanjutnya bisa mempersiapkan UKDI dan OSCE UKDI sebaik-baiknya. Selamat Berjuang! Viva Medika!!

Rabu, 22 Februari 2012

Jamur Goreng Crispy



Saya suka banget sama jamur goreng crispy... Tapi kalo beli, Rp.4000,00 aja cuman dapet dikit. Lagian bumbunya itu loh... biarpun dibilang berbagai rasa, dan emang enak, tapi itu MSGnya jelas banyak... Emang bisa mencerdaskan bangsa dengan MSG? Hehe... Akhir-akhir ini saya lagi suka bikin jamur goreng crispy sendiri... Dan setelah ujian UKDI saya berlalu, memang rasanya bawaannya pingin coba berbagai resep aja... Dari segi ekonomis, beli jamur tiram mentah di pasar isinya 1 ons kali ya itu, cuma Rp.2000,00/bungkus. Setelah digoreng, hasilnya jauh lebih banyak dibanding kalo beli jadi sebungkus Rp.4000,00 tadi. Lebih puas, lebih sehat... Jadi kepikiran mau usaha jualan jamur goreng juga... Apa,, usaha...? Boro-boro dijual... Orang tiap bikin jamur goreng entah berapa banyaknya pun, gak lama kemudian langsung habis. Maklum para bayi di rumah saya juga pada suka. Hehe... Ini resepnya, tapi ukurannya serba kira-kira ya...


Bahan:
100 g Jamur tiram

2 siung bawang putih
1 sendok teh merica bulet
0,5 sendok teh garam
Tepung terigu secukupnya, campur dengan tepung beras, dengan perbandingan 3:1

Cara Membuat
  • Cuci bersih jamur tiram, peras airnya sampai sekering mungkin. Jamur menyerap air, kalau tidak diperas maka kalo digoreng lama keringnya. Suwir kecil-kecil.
  • Haluskan bawang putih, merica dan garam. Campur dengan jamur tanpa ditambah air, remas-remas, diamkan kurang lebih 5 menit.
  • Lumuri jamur dengan campuran tepung kering, jamur harus benar-benar terselimuti tepung dan terpisah satu sama lain.
  • Panaskan minyak, kira-kira cukup membuat jamur terendam. Goreng hingga garing dan kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan

 Jadi deh... Nyam... Kriuk... Ini eksperimen baru saya, sebelumnya pake telur buat dicampur bumbunya, tapi ternyata malah lebih enak kalo gak pake telur. Dan yang ini saya juga gak pake penyedap rasa sama sekali. Ternyata enak juga. Dulu sih kalo masak sesuatu ga pake penyedap rasa kayak kurang mantep gitu, meskipun pakenya juga dikit-dikit. Mari belajar mengurangi pemakaian MSG... Mari ikut mencerdaskan bangsa... Hehe...

Selasa, 14 Februari 2012

“Belanja Dokter” and My Student Syndrome

Ini notes FB ku jadul, waktu masih muda [masi kuliyah maksudnya...] Dipost kan di FB tanggal 7 November 2009 waktu aku belum punya [baca: belum tau caranya posting di] blog ini. Sekarang aku menjadikan blog ini sebagai sumber penumpahan unek2 ku [setelah udah merasa lumayan ga gaptek]. Jadi untuk beberapa waktu ke depan aku akan memposting beberapa notes ku dari FB, supaya lingkup pembacanya lebih luas, ga hanya temen2 FB ku aja... [haha, sok yakin ada pembaca laen selain temen2 FB aja...]. Ga papa deh...

Ini cerita tentang pengalamanku. Bisa jadi masukan buat temen2 calon dokter/dokter, juga bwt temen2 lain yg merasakan gejala yg sama denganku.

Sejak bulan Juli aku migrain terus2an, dan otalgia (nyeri telinga) di sisi kiri. Awalnya otalgianya gak terlalu parah, cuma gak nyaman, coz terus2an berdenyut2, tapi lama2 jd makin prah. Tak lama stelah onset otalgia dan migrain, salah satu Pakdhe ku meninggal. Waktu itu “darah Jawa” yang mengalir di jantung dan vasa2 ku membuatku menghubung2kan (gak logis sih): ooo, pantes berhari2 telinga kiriku sakit… Tapi ternyata setelah itu masih saja sakit, tambah lagi tenggorokan radang (faringitis). Mulailah petualanganku “belanja dokter” (doctor shopping, istilah yg dipakai bagi pasien yg suka berpindah dari satu dokter ke dokter lainnya karena gak puas dg diagnosa maupun treatmentnya).

Pertama aku ke dokter “sarang burung walet”, dokter keluargaku dan orang2 kampungku. Pak dokter bilang, faringitis kronis, trus bisa jadi njalar ke telinga tengah (otitis media) yang bikin otalgia, coz telinga luar normal. Aku dikasih antibiotik, anti radang dan analgesik. Pak dokter juga berpesan, jangan kecapekan dan jangan terlalu terforsir. Aku dah rajin minum obat, tapi waktu itu kuliah emang lagi padat2nya… Obat belum habis, tapi sakitnya gak berkurang, lalu aku pindah ke salah satu RS swasta di Jogja. Di poli THT, pak dokternya bilang diagnosa sementaranya kurang lebih sama. Cuma, klo emang stlh 2 minggu dikasih obat belum sembuh, pak dokter Sp.THT menyarankan untuk CT, bisa jadi kelainannya di telinga dalam.

Ternyata periksa di dr.Sp.THT RS itu bayarnya na’udzubillah. Sempat ditegur Bapakku coz wkt itu aku gak ngurus GMC (askesnya UGM), padahal kalo pake GMC bisa dipotong jauh. Jdi selanjutnya aku ngurus GMC dulu dan minta rujukan ke poli THT, tapi rujukannya ternyata ke salah satu RS pemerintah di Jogja. Di poli THT RS itu aku ganti dokter sampe 4 kali, tapi bukan karena gak puas, melainkan waktu kontrol lagi, dokter yang dulu lagi pergi. Dari keempat dokter itu, diagnosanya macem2, jadi bingung aku… ada yang bilang otitis media, faringitis kronis atropi, Gastro Esofageal Refluks Disease/GERD (soalnya suka mual dan heartburn [panas di ulu hati] juga), sinusitis alergi… Aku sempat di tes audiometri dan audiologi, hasilnya emang ada sedikit penyimpangan, tapi masih dalam batas normal (jaman dulu emang telingaku pernah otitis media sampe otorea). Bahkan sempat di tes Romberg (berdiri,tangan diangkat,mata tutup…) tapi normal (dikirain ada ataksia perifer, coz aku jg merasa kalo liat suka goyang2, agak vertigo gitu). Dokter S yang terakhir meriksa aku bilang, “Pokoknya bsk klo kontrol sma saya lagi ya, Ci”. Untuk kontrol selanjutnya, aku diminta tes alergi.

Terus terang waktu itu muncul berbagai spekulasi yang memenuhi benak ini (cie…). Aku dah mikir yang nggak2,, dari karsinoma sinonasal (ini topik skripsiku), karsinoma nasofaring, orofaring, pokoknya aku pikir ada tumor kepala leher gitu,, coz aku juga weight loss 2-4 kg tanpa diet dan exercise (jaman dulu sih seneng, tapi kalo karena sakit kan takut…). Apalagi telingaku mulai berdenging (tinnitus) dan saat itu yang kanan juga mulai sakit. Ini nih yang namanya Student Syndrome (mahasiswa bidang kesehatan yang berpikir kalo menderita penyakit seperti yg dipelajari coz merasakan gejala2 yang sama). Aku sempat tanya ke pembimbing skripsiku (beliau juga Sp.THT), bapaknya bilang bisa aja krn alergi, bisa juga GERD, bapaknya nyaranin untuk gastroendoskopi (masukin selang ke lambung, hi…) untuk liat ada ulkus yg parah gak. Waktu aku nanyain kanker, beliau bilang “kan masih muda, kemungkinan kanker itu sangat jarang”. Aku mikir JARANG BUKAN BERARTI GAK MUNGKIN, orang salah satu sampel skripsiku ada yang umur 23 tahun kok. Dosenku lalu nanya sering olahraga gak? Hya..ketahuan ni gak pernah olahraga. Saran beliau: sempatkan olahraga dan jangan terlalu dipikir.

Aku jg nanya ke dr. S ttg kemungkinan kanker. Dokter yang masih muda itu (gak tau beliau masih residen apa dah Sp.THT ya...) njawab, “Belajarnya jngn yg serem2, dulu semester 5 saya jg prnah ngirain kena kanker krn konstipasi (susah BAB), sampe tes CEA (carcino-embrionic antigen) sgala, tapi negatif. Ya gimana gak konstipasi, makan aja jarang…”. Trus beliau juga bilang “kuliah kedokteran yg nyuruh siapa? Seneng gak sama yg dipelajari? Apa lagi banyak masalah? Coba sakitnya diabaikan aja..” Waduh, pak dokter kayaknya mulai menjudge aku psikosomatis (tekanan batin yang dialihkan ke keluhan dan gejala fisik) nih. Padahal aku gak merasa banyak beban, justru semangat hidupku lgi tinggi2nya, & krn skit kronis ini aku justru tkut gak bisa mencapai target2ku (waktu aku cerita ke Ibuku, Ibu bilang: itu juga beban, nduk… XD). Pelajaran buat kita: jangan terlalu cepat menjugde pasien sebagai psikosomatis….

Aku gak merasa perubahan yang berarti di RS itu. Tetanggaku ada yang mempromosikan dr.Sp.THT di Jogja selatan yang banyak menyembuhkan kuping2 orang kampungku. Aku pun berpindah lagi ke dokter itu dg harapan bisa sembuh. Dokter yg dulu pernah ngajar di UGM tapi skrg dah pensiun itu bilang ada infeksi, dah dikasih obat analgesik, antibiotic dan antiradang juga.

Beberapa hari setelahnya aku merasa gigiku sakit, juga ada nyeri disekitar mata. Wah, jangan2 selama ini karena nyeri alih (referred pain), mungkin ada gigiku yang bolong nih… Aku ke drg. di dekat fly over Janti. Bu drg. meriksa, “giginya baik2 aja, mbak, gak ada yang bolong… umurnya berapa?”. “Dua puluh satu, dok…”. "Ooohh… mungkin karena impaksi (gigi gak mau nongol) geraham bungsu, mbak… Coba di rontgen gigi…”. Masuk akal juga… kan persarafan gigi dari N. trigeminus, percabangannya di sekitar telinga, trus cabang2nya ada yang ke mata sama wajah, juga ke belakang kepala. Bisa jadi karena itu aku migraine dan otalgia. Aku jg Googling2 dan nanya ke temen yg pernah impaksi, juga ke temen yg kuliah di FKG. Ternyata emang mungkin, bahkan kalo parah bisa sampai tinnitus dan gejala sistemik (mual2, weight loss…).

So,, senin yang lalu aku rontgen gigi, di RS AURI yang dekat di rumahku. Melalui askes PNS bapak, di situ bisa gratis-tis-tis… “Ini digigit di tengah2 ya, mbak, satu, dua, tiga… cheese…” kata petugasnya (ini aku yang lebay sih...). Hasilnya cuma nunggu beberapa menit, setelah dilihat, emang dua gigi bungsu atasku gedhe2 dan gak mau tumbuh karena gak ada tempat, jadi ndesak gigi sebelahnya dan nervus2 alveolaris, anehnya benih gigi bawah gak ada sama sekali. Di konsul ke drg. Sp. BM (bedah mulut), “kalo dah sampe migrain dan otalgia harus diambil, mbak, tapi satu2, yang paling banyak keluhannya dulu”. Jadilah 2 hari berikutnya (rabu kemarin), aku diminta untuk operasi, hari senin aku tes darah dulu.
eh,, ada gambar giginya juga. 

Hari rabu kemarin, aku operasi gigi kiri ditemani Bapak and Ibuku. Mulutku di dower2in, lalu mulai dibius lokal, drg.nya berkali2 liat ke dalem mulutku, dibandingkan dg foto rontgen dan bergumam2 “ini palatum bla3,, nervus bla3..”, ambil alat2 yg nyeremin, gusiku dibelah, maksila (tulang rahang atas) dibor dikit, diongkel-ongkel, 2 asisten drg. nyedotin darah yang ngalir ke mulut, tapi tetep aja ada darah yang ketelen (Weeks..). Akhirnya setelah kira2 1 jam, “giginya dah lahir mbak…”. Alhamdulillah… Tinggal dijahit. Setelah operasi drg.nya njelasin, “Emang posisinya dah mepet sinus maksila, mbak, kalo salah arah ngambilnya bisa kedorong masuk ke sinus, jadi saya emang hati2 banget ngambilnya. Kalo nanti pipinya jadi bengkak itu dah biasa, dikompres air hangat. Obatnya diminum. Minum es biar perdarahannya cepet berhenti. Minggu depan kontrol dan ambil benang”.

Jadilah,, kini pipi saya masih bengkak, teman… Kemarin ke kampus jilbabnya ditutup ke pipi, malah dapat gelar “Perempuan berkalung sorban” XD. Waktu mau konsultasi skripsi di poli THT, ktemu sama dr. S di lift. “Gimana, Ci?”, tanyanya . “Ternyata impaksi molar Dok…”. “O… dah dicabut?”. “Udah dok, ni pipinya masih bengkak…”.

Yah, intinya, menangani pasien harus benar2 scr holistik. Anamnesis harus rinci, segala kemungkinan harus digali… Trus untuk teman2 usia 18-20an yang sering migraine, sakit telinga atau sakit sekitar mata ada baiknya rontgenkan gigimu,, siapa tau dirimu juga impaksi, hehe... Sekian… (Fuih...notes ini panjang kali, moga bisa bermanfaat…)

Setelah sekarang ku baca lagi,, jadi ketawa2 dewe. Emang konyol jaman dulu,, jaman semangat2nya belajar,, tipe kepribadian neurotik kayak gini emang suka lebay deh kalo menganalisis sesuatu. Dan lebih konyolnya masa dulu aku ga bisa bedain residen ama staf THT, padahal kan jelas2 residen jasnya lengan pendek, belum ada tulisan SpTHT juga, staf jasnya lengan panjang. Dudul.com. Maklum masi polos. Kayaknya dulu sebenernya aku juga pas ada psikosomatisnya, kok bisa mpe weight loss 4 kg gitu... [haha, dulu masih denial, ga mengakui...]. Kalo dipikir2 dulu emang puyeng mikir skripsi sih... Orang melankolis gini emang sensitif sih, ada masalah dikit jadi sering sakit, susah makan, berat badan jadi turun... Zzzz.... Sekarang alhamdulillah kadar melankolis saya sudah lumayan turun [benarkah???]. Hehehe...

Senin, 30 Januari 2012

UKDI? Ready?

UKDI adalah ujian kompetensi dokter indonesia. Huah... tinggal belasan hari lagi, kalo ga salah itung, tinggal 19 hari lagi!!!! Saya benar-benar ambivalensi mengenai UKDI. Di satu sisi ingin segera berlalu, saat yang sama, di sisi lain masih merasa belum siaaap.... Ya Allah, mudahkanlah.... Takut ni... Masalahnya tesnya juga pake CBT alias Computer Based Test. Saya emang agak gaptek ni. Kemarin waktu Try Out sih bisa lancar pakenya. Tapi tetep takut kalo2 ntar ada masalah teknis yang mengganggu... Aduh... mendingan pake cara bulet2in LJK pake pensil 2B deh... Ah, semoga dijauhkan dari masalah2 teknis lah... Aduh ini postingan apaan ya, ga mutu banget... Biar deh... Habis cemas abis... Semoga diberi yang terbaik. Dan happy ending. Amin... ^_^

Kamis, 26 Januari 2012

Resensi Buku: Jumpalitan Mencari Sang Pangeran


Penulis            : Shelina Zahra Janmohamed
Penerbit          : Mizan
Judul Asli        : Love in a Headscarf

 Buku ini merupakan memoar pencarian calon suami dari Shelina, seorang muslimah Inggris keturunan Tanzania. Statusnya sebagai muslimah berakidah kuat dipadu darah Asia yang menjunjung budaya timur serta menjadi warga negara Inggris yang modern dan tentu saja negeri minoritas muslim membuat kisah pencarian jodohnya unik dan menarik. Di dalam buku ini dipaparkan bagaimana Shelina mulai menjalani perjodohan-perjodohan. Ternyata kaum muslim keturunan Asia yang tinggal di negeri minoritas muslim masih menjunjung tinggi perjodohan. Sangat berbeda dengan keadaan Indonesia yang juga negara Asia dan mayoritas muslim, namun muda-mudinya justru kebanyakan mengadopsi budaya Barat dalam pencarian jodoh – pacaran dan kencan. Padahal dalam Islam tidak ada istilah premarital relationship. Alhamdulillah banyak juga muda-mudi yang kenal ngaji sudah meninggalkan metode pacaran itu, dan memilih jalur ta’aruf melalui ustadz, kenalan atau keluarga.
Kembali ke cerita buku tadi. Menurut buku itu, perjodohan tradisional dalam budaya Shelina selalu diperantarai oleh comblang, yaitu Para Bibi, yang terdiri dari wanita-wanita tua yang sudah lama menikah, punya banyak anak cucu dan perawan-perawan tua yang mengabdikan dirinya untuk membantu gadis-gadis muda mencari jodoh. Tugas Para Bibi adalah mengumpulkan kandidat-kandidat, pria dan wanita yang sudah siap menikah kemudian mengatur pertemuan keluarga dengan orangtua pria dan wanita itu. Dalam Aturan Para Bibi Gemuk no.1 disebutkan Sebuah tata cara sosial yang memalukan bagi satu pihak jika menelepon pihak lain dan mengatakan, “Hei, bagaimana kalau anak-anak kita jodohkan?”.  Aturan no.2-10 merinci tentang aturan main perjodohan tradisional, yang membuat saya cekikikan membacanya karena ternyata pola pikir mereka mirip dengan pola pikir orang Indonesia tradisional, terlepas itu perjodohan atau mencari sendiri. Seperti gadis yang harus lebih muda dibanding lelaki, si gadis harus lebih pendek – bahkan saat memakai sepatu berhak tinggi, pendidikan harus lebih rendah, harus berkulit lebih terang, gadis harus telaten, religius, pihak wanita tak boleh maju duluan dan lain-lain.
Dalam buku ini dibahas tentang impian masa kecil Shelina menemukan sang pangeran tampannya dan jatuh cinta pada pandangan pertama (seperti beberapa muslimah Indonesia yang terbuai dongeng Cinderella waktu kecil) yang kontradiksi dengan kata-kata imam masjid “Cinta hadir setelah pernikahan”. Dan karena perjodohan dalam Islam bukan kawin paksa, namun kita boleh menolak jika calon tak sesuai dengan kriteria, maka Shelina mematuhi aturan tradisi itu. Shelina membuat daftar kriteria calon suaminya dan mengikuti proses perjodohan demi perjodohan, yang belum berhasil. Sang ayah dengan bijak menasehati bahwa jika ada 6 kriteria, 4 terpenuhi pun sudah sangat baik. Namun ada saja hal-hal mengganjal yang jadi penyebab tidak berhasil. Ada yang tidak punya visa, tidak bekerja, ada pula yang menolak karena Shelina terlalu pendek, ada yang menolak karena Shelina berjilbab.
Dalam saat-saat harapan ditemukan Mr.Right itu semakin suram, Shelina menggalau bersama Sara dan Noreen, temannya sesama keturunan Asia yang juga masih lajang. Mereka menyebutnya sebagai enam tahap mengasihani diri sendiri:
1.       Wanita (Muslim) Itu Mengagumkan
2.       Dimana Pria-Pria Yang Baik Itu?
3.       Mungkin Tak Ada Lagi Pria Baik-Baik Yang Tersisa
4.       Mungkin Kita Jenis Wanita Yang Salah
5.       Ya Tuhan, Kami Tak Akan Pernah Menikah
6.       Pria Sempurna Itu Ada di Luar Sana Hanya Menunggu Kita
Shelina merinci dan memaparkan kegalauan mereka di tiap tahap itu. Saya suka bab ini karena menurut saya pada saat-saat tertentu terlintas hal serupa di pikiran saya. Ironis sekali.
      Shelina juga mencoba beberapa alternatif lain saking putus asanya dengan metode perjodohan tradisional yang menurut Para Bibi sudah teruji itu. Pertama dia nekat mencari di kontak jodoh via internet. Dari dunia maya sepertinya sudah cocok, namun setelah kopdar, ternyata banyak ketidakcocokan ditemukan. Lalu dia dan Noreen mengikuti sebuah acara kencan kilat yang harganya murah. Mereka membuat kesepakatan, jika acaranya terlalu mengerikan, maka mereka akan kabur bersama-sama. Ternyata diantara pria yang ikut, tidak ada yang sesuai. Lalu Shelina mengikuti acara kencan kilat lain yang lebih mahal, dengan harapan para prianya lebih berkualitas. Namun ternyata, peserta pria lebih sedikit dari yang dijanjikan, dan ada yang keceplosan bahwa mereka sengaja dibayar untuk hadir. Maka dia kapok juga dan sadar bahwa pria yang dicarinya tak akan ditemukan di tempat-tempat seperti itu.
        Lalu bagaimana nasib Shelina? Akankah dia menemukan pangerannya setelah jumpalitan kesana-kemari? Kalo endingnya ditulis disini ga seru dong. Silakan baca sendiri.  
Saya suka buku ini. Menurut saya ini buku yang layak dibaca temen-temen muslimah yang sedang berikhtiar atau setidaknya bercita-cita mencari jodoh secara Islami. Hitung-hitung hiburan menertawai diri sendiri, karena beberapa bagian menohok secara pribadi. Sekaligus mengambil hikmah dari kisah saudari kita sesama muslimah di negeri lain.
Menurut saya, setelah membaca buku ini dan pengamatan saya terhadap fenomena sekitar, bisa disimpulkan beberapa hal dalam pencarian sang pangeran:
  •  Kita harus bangga menyandang status sebagai muslimah yang berjilbab dan meninggalkan metode pacaran.
  • Kita harus berikhtiar dalam mencari jodoh, meski jatuh bangun dan jangan lupa banyak berdoa.
  • Jodoh itu misteri. Kadang datang dari arah tak terduga. Kita tak akan pernah tau sampai benar2 menemukannya. Maka, jangan langsung menolak tiap ada kesempatan, siapa tau memang itu jalannya. Kata pak ustadz, minimal diistikharahkan dulu. Asal tetap dalam koridor syariat yang benar.
  • Cinta hadir setelah pernikahan. Cinta dibangun dalam pernikahan. Namun bukan berarti ga boleh mencintai sebelum menikah. Fathimah dan Ali saja sudah saling suka sebelum menikah. Hanya, jangan sembarang mengumbar kata cinta jika belum terucap akad. Karena belum tentu kan, dia yang akan benar-benar jadi pasangan kita? Pendam dulu. Sehingga gak ada fitnah jika ternyata bukan jodohnya. Kalo memang ternyata itu jodoh kita, kan romantis tu kalo bilang, “Mas, dulu sebelum menikah aku dah mencintai mas loh... Aku sangat bersyukur bisa menikah dengan mas”. Yang dijawab oleh suami, “Oh, ya dik? Wah sama, aku juga. Aku juga dah cinta kamu sebelum kita menikah. Wah, kita mirip Ali dan Fathimah ya”. Terlepas si suami benar-benar jujur mengatakannya atau hanya ingin membahagiakan istri (karena suami baru bisa mencintai istri setelah menikah cukup lama), toh itu tetap indah. Lebih indah daripada sudah mengobral kata cinta dan rindu, karena dipikir kalo khitbah diterima tu dah 100% jadi nikah, eh.. ternyata ga jadi karena memang bukan jodohnya. Kasihan suami kita nantinya.
  • Kadang memang terlintas mencoba hal baru jika metode teruji – lewat Para Bibi dalam buku ini, atau minta dicarikan ustadz/kerabat seperti kebiasaan akhwat di Indonesia – nampak tidak efektif menurut kita. Hanya saja, kita benar-benar harus tau risikonya. Hati-hati, karena kita wanita dan lagi-lagi syariat come first. Jika sudah tidak cocok atau ada yang mengganjal, tinggalkan saja.
  •  Menunggu secara pasif? Jika anda akhwat keren sekaliber Anna Althafunnisa seperti di novel KCB, mungkin saja karena sudah banyak ikhwan antri mengkhitbah. Tapi jika anda tergolong akhwat ‘biasa-biasa saja’, ga ada salahnya minta dicarikan ikhwan yang sholeh melalui ustadz atau kerabat untuk diproses ta’aruf. Untuk mengakselerasi proses penantian, karena wanita nilai tawarnya semakin rendah seiring bertambah usia. Memasukkan biodata ke B**** juga ga ada salahnya. Kita ga akan pernah tau darimana sang pangeran datang, sampai dia datang dan mengucap akad. Yang penting kita tetap ikhtiar (dengan benar) dan berdoa. Allah mencatat tiap usaha kita.
  • Nembak duluan? Kalo ikhwan sih ikhtiarnya bisa lebih luas karena tak dibatasi norma budaya. Ikhwan boleh mengkhitbah akhwat yang disukainya. Apa akhwat ga boleh? Menurut agama boleh sih. Khadijah aja yang melamar Rasulullah dulu. Tapi norma budaya Indonesia, khususnya lagi di Jawa masih menganggap itu tabu. Jika memang benar-benar naksir seorang ikhwan karena agama dan kepribadiannya yang cocok dengan kriteria anda, kalo anda berani, boleh aja anda maju duluan. Ditolak? Ga papa, daripada ga pernah dicoba dan penasaran seumur hidup? Hehe, tapi saya pribadi belum seberani itu sih. Saya masih terikat dengan budaya juga. Jika sukanya bener-bener setengah mati dan belum lega kalo belum tau diterima atau ditolak (hehe), anda bisa juga mencoba melalui perantara (comblang) dan membuat trik seolah-olah tawaran datang dari pihak laki-laki (seperti dalam Aturan Para Bibi Gemuk no.3). Supaya ga malu jika ternyata si cowok ga tertarik sama anda. Yah, kembali lagi ke masing-masing pribadi sih.
  • Jangan lupakan istikharah dalam segala proses ikhtiar kita. Ingat lagi, pilihan terbaik adalah pilihan Allah. Dan kita ga bisa memaksakan keinginan kita dengan berdoa, “Ya Allah jika dia jodohku dekatkanlah, jika bukan maka jodohkanlah, bila dia jodoh orang lain maka ceraikanlah, bila dia ga suka sama aku, jangan sampai dia dapat jodoh hingga dia kembali mau denganku”. Itu namanya egois. Hehe. Siapa yang hamba, siapa yang Tuhan? Doa kok maksa... Berdoalah diberi yang terbaik menurut Allah. “Bila memang dia jodohku maka dekatkanlah, bila bukan maka jauhkanlah dengan baik-baik. Cintakanlah aku dengan seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu. Berilah aku suami yang bisa memimpin aku dan anak-anakku meraih surga-Mu. Amin...”
  • Jika segala ikhtiar dan doa dah dilakukan... Barulah kita tawakal, sabar. Selama menanti sang pangeran datang dengan kuda putihnya, upgrade diri. Kurangi kebiasaan-kebiasaan buruk, percantik pribadi, banyak belajar tentang fikih pernikahan, berkomunikasi lebih baik, berinteraksi dengan anak-anak untuk menumbuhkan naluri keibuan, belajar memasak dan skills standar lainnya sebagai seorang istri,belajar mendisiplinkan diri mengelola keuangan,dan lain-lain. Banyak yang harus disiapkan,girls... Realitanya, pernikahan bukan hanya penuh hal-hal romantis seperti layaknya pernikahan putri dongeng yang selalu diikuti dengan and they lived happily ever after. Pernikahan hanya awal dari cerita baru yang dimulai. Ada indahnya memang, tapi katanya masalahnya juga banyak (kata banyak orang yang dah menikah loh... Saya sih, belum tau...). Menyempurnakan separuh agama, separuhnya lagi, kita sempurnakan bersama pasangan kita. Co cwiiittt...
Yah,, akhirnya sampai juga di penghujung acara. Hehe. Maaf niatnya resensi buku, eh malah jadi ngasih tips-tips berikhtiar mencari sang pangeran. Kayaknya terbawa suasana juga. Hehe... Mari girls, kita ikhtiar dengan benar... Jika ga segera dimulai, kapan lagi? Ingat, wanita punya masa jaya, sebut saja golden period. Seperti kata Salim A Fillah, waktu masih terlalu muda & masih minder (belum masuk golden period) bilang “siapa saya”? Pas lagi jaya-jayanya, usia ideal buat nikah, merasa kueren buanget-nget-nget (dalam golden period) bilang “siapa kamu”? Trus pas pesona mulai pudar (dah melewati golden period) bilang “siapa aja lah...” Bukan bermaksud sensi ya,, ngingetin aja kalo masih dalam golden period supaya tetap rendah hati dan ga meremehkan tiap kesempatan & lamaran yang datang. Kalo dah lewat golden period? Jangan putus asa, jangan sampe niat menikah itu hilang. Karena menikah adalah sunah Nabi dan kehidupan merahib itu ga ada dalam Islam. Kemarin salut waktu dengar cerita ada wanita usia 60an yang akhirnya tetep menikah supaya ga dicoret dari kaum Nabi Muhammad. Padahal kalo dipikir, usia 60an dah menopause, ga bisa dapat keturunan lagi juga. Usia 40 pun jadi masih terhitung muda kan? Apalagi kalo masih kepala 2. Yuk semangat kawanz.... :D